Ilmu dan Pengetahuan Modal Kebahagiaan

HEAD1posManusia yang dimulai pada fase ketika kecil didik orang tua agar tahu berbagai pengetahuan sehingga si anaknya mengenal hal-hal yang baru dan membuat si anak bertambah berkembang pemikirannya karena menyerap pengetahuan sederhana sebatas yang bisa diterima otaknya.

Beranjak pada fase berikutnya pada usia sekolah yang sebelumnya sudah terlatih mengenal sesuatu dalam permainan ketika di taman kanak-kanak (PAUD), dalam fase ini berbagai kosa kata dan keterampilan yang baru lebih terasah sesuai kekuatan diri masing-masing anak. Otak pun semakin berkembang ke arah yang lebih aktif sesuai masukan yang diterimanya.

Pada pendidikan dasar pengetahuan yang diterima manusia bersifat hal-hal yang mendasar terus berkembang pada periode berikutnya ketika tingkatan pendidikannya pun semakin meningkat.

Manusia dibekali otak yang sama dengan manusia yang lainnya, tetapi yang membedakannya nanti adalah ketika menyerap ilmu dan pengetahuan itu yang banyak dipengaruhi lingkungan, makanan terkait asupan gizi serta gaya guru yang menularkan pengetahuan itu merupakan salah satu faktor ilmu itu tepat sasaran sampai pada penuntut ilmu.

Ketika manusia semakin dewasa maka sampailah dirinya lebih berpikir mandiri terhadap dirinya dan itu sangat dipengaruhi oleh ilmu yang dipelajari serta pengetahuan yang diserapnya dalam kehidupan sejak kecil sampai dewasa.

Ilmu dan pengetahuan tidak bisa dipisahkan pada diri manusia, karena hal itu selalu melekat pada dirinya. Untuk makan saja ada pengetahuannya seperti etika ketika makan ataupun kebiasaan setelah makan dan lain sebagainya.

Dalam tulisan ini, pada bagian awal sedikit diuraikan proses ilmu dan pengetahuan yang didapat manusia itu. Pada bagian akhir tulisan ini akan berfokus pada ilmu dan pengetahuan itu menjadi sumber kebahagiaan bagi dirinya.

Manusia yang berakal karena ditempa dengan pengalaman dan pengetahuan yang didapatkannya tentu saja menginginkan kebahagiaan dalam dirinya, itu fitrah manusia dan bukan termasuk pada sikap materialistik.

Ada sedikit perbedaan orang yang ingin mencapai kebahagiaan dengan sikap materialistik. Seperti kita ketahui bersama materialistik itu lebih condong pada hal yang bersifat keduniaan dalam arti segala sesuatu harus berdasarkan uang dan harta.

Sedangkan kebahagiaan jikapun ada terkait uang dan harta cuma sekedar sarana saja dalam kebahagiaan itu, karena kebahagiaan terkait yang dirasakan oleh manusia.

Keterkaitan ilmu dan pengetahuan terhadap kebahagiaan bisa disimpulkan secara sederhana sebagai berikut:

  1. Uang bisa habis, tapi ilmu dan pengetahuan tidak mungkin habis. Semakin bermanfaat ilmu dan pengetahuan maka nilanya akan bertambah tinggi pula.
  2. Harta ketika yang memilikinya bangkrut, maka bisa ditinggalkan orang. Sedangkan ilmu dan pengetahuan semakin dibagikan dan diajarkan pada orang semakin menyebar kebaikannya pada orang banyak.

Ringkasnya, ketika ilmu dan pengetahuan yang dimiliki ditularkan serta menjadi penghias dalam kehidupan manusia maka kebahagiaan akan lahir dari sana.

Pantaslah, orang-orang dulu yang bijak lebih suka meninggalkan ilmu yang bermanfaat buat anak keturunannya dibandingkan harta yang melimpah, kalaupun yang ditinggalkan harta cukup untuk modal kehidupan saja.

Berbahagialah orang yang bisa berbahagia karena ilmu dan pengetahuannya membawa dampak manfaat bagi orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s