TAREKAT PUASA : MENGENDALIKAN INDRA BATHINIAH

Dalam Tulisan ini, penulis masih terinspirasi dengan tulisan Ustadz Jalaludin Rahmat dan mungkin bulan puasa tahun ini tulisan yang menyangkut puasa sebagian besar adalah mengutip dari yang beliau ungkapan dalam tulisan-tulisan beliau yang padat berisi ^_^.

Rasulullah SAW. bersabda : “Syariat itu ucapanku, tarekat perbuatanku, dan hakikat keadaanku”. Dengan merujuk pada sunnah-sunnah dan sabdanya, kita melakukan berbagai ketaatan. Kita melakukan puasa ini dengan berpegang pada Al-Qur’an dan sabda Nabi. Kita mengikuti petunjuk Nabi dalam bersahur, berpuasa, berbuka dan berdoa di malam hari. Inilah ketaatan yang paling dasar, bagian terluar dari pelaksanaan ajaran Islam. Inilah syariat.

Ketika kita mencoba menerapkan perilaku Nabi dalam perilaku kita, ketika puasa Nabi juga menjadi puasa kita, kita memasuki ketaatan yang lebih mendalam. Inilah tarekat. Ketika kita menyaksikan apa yang disaksikan Rasulullah SAW. ketika tirai yang menutup mata kita dibukakan, kita memasuki wilayah hakikat.
Syariat, tarekat, dan hakikat tidak bisa dipisahkan. Ketiganya berjalin bersamaan dan tak terpisahkan dari kehidupan beribadah. Tidak mungkin mencapai hakikat tanpa tarekat. Tidak mungkin mempraktekkan tarekat tanpa syariat. Pada suatu pagi Rasulullah SAW. berjumpa sahabatnya Harits. “Bagaimana keadaanmu pagi ini?” tanya Nabi. Harits berkata : “Aku telah menjadi mukmin sejati.” Nabi kembali bertanya : “Hati-hati kamu bicara. Segala sesuatu ada hakikatnya. Apa hakikat keimananmu?” Harits menjawab : “Aku menyaksikan penghuni surga saling berkunjung, dan aku menyaksikan penghuni neraka saling menjerit. Aku melihat Arsy Tuhan sangat jelas.” Rasulullah SAW. bersabda : “Kamu sudah bicara benar. Tetaplah dalam keadaan itu”. Keimanan Harits akan alam ghaib adalah syariat. Apa yang disaksikannya adalah hakikat. Amal ibadahnya dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Harits adalah seorang muslim yang selalu berpuasa siang hari dan shalat malam yang panjang di malam hari – adalah tarekat yang mengantarkannya pada hakikat.

Seperti kelapa, syariat adalah kulitnya yang keras, dagingnya adalah tarekat, dan air kelapanya adalah hakikat. Para sufi sering menyebut syariat sebagai hasil pengetahuan yang diperoleh dengan belajar ‘ilmul yaqin. Tarekat adalah ‘ainul yaqin, dan hakikat adalah haqqul yaqin. Sayyid Haidar Amuli menjelaskan bahwa semua ajaran Islam, sejak pokok sampai cabang, sejak ushul sampai furu’, sejak akidah sampai ibadah, selalu terdiri dari ketiga unsur yang tidak terpisahkan ini (Syariat, Tarekat an Hakikat).

Marilah kita lihat puasa dengan kerangka ini. Secara syariat, puasa ialah mengendalikan diri untuk tidak makan, minum, dan seks sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari. Puasa ini tidak saja dapat dilakukan orang dewasa (mumayyiz), anak-anak, tetapi juga binatang sekalipun.

Ular, kura-kura, harimau sering berpuasa seperti ini. Mereka tentu saja melakukannya karena bimbingan Rabb (Tuhan) yang bersifat takwini; sementara kita berpuasa karena ketentuan tasyri’(syariat). Puasa syariat kadang-kadang disebut sebagai puasa awam, puasanya kebanyakan manusia.

Orang yang berpuasa dengan mengetahui tentang syariat, tarekat dan hakikat, tentulah puasa yang dilakukannya mempunyai makna, dan tidak cuma sekedar menahan lapar dan haus saja.
Sebagai seorang muslim yang diberikan hidayah oleh Allah, marilah kita menjalankan puasa sesuai dengan anjuran-anjuran yang telah ditetapkan. Memperbanyak amal ibadah sebagai lahan pencarian pahala dan keridhaan Allah.

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s