Menghimpun Pundi-pundi Pahala di Bulan Barakah

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Ia berkata: “ketika datang bulan suci Ramadan, Rasulullah Saw. Bersabda: “Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan suci Ramadan, bulan yang diberkati. Allah swt. mewajibkan kalian berpuasa di bulan itu Pada bulan itu, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya, maka sungguh ia telah pergi.

(H.R. Imam Ahmad)

Genderang bulan suci telah mengalun kembali, menyapa dan mengetuk pintu-pintu rahmah dan maghfirah, irama syahdunya seakan menggetarkan seantero dunia. Setiap mukmin merasa respek dengan kehadiran bulan penuh rahmah ini. Di dalamnya diturunkan beraneka ragam warna kebaikan dan ladang pahala yang sangat luas. Ramadan hadir menebar segudang barakah dan limpahan karunia-Nya. Diambil dari rangkaian kata Ramadan sendiri; Ra, mempunyai artian rahmah. Ma, diartikan dengan maghfirah dan Dhamn sendiri berarti dhamnu minannar (itqu minannar).

Alangkah indanya jikalau setiap detak jantung dan hembusan nafas kita pada bulan penuh barakah ini didominasi dengan segala bentuk perbuatan kebaikan, karena Allah swt. Senantiasa melipat gandakan semua amalan kita yang tentunya akan menghasilkan pundi-pundi pahala dihadapan-Nya. Sejatinya segala macam bentuk kebaikan dan aktifitas kita pada bulan suci Ramadan ini bernilai ibadah dan akan mendapatkan bibit pahala yang tak terhingga di hari kelak.

Ramadan adalah Fursah Azimah, bulan penuh hikmah, bulan penuh maghfirah dan limpahan kasih sayang-Nya. Ramadan diibaratkan seperti hati yang berada di dalam dada, ia sebagai obat mujarab, bulan penawar yang ampuh bagi racun-racun pada bulan-bulan yang lain. Dihiasi dengan lantunan cahaya ayat-ayat suci al-Qur’an nan mulia, menambah harmoni ritme Ramadan yang senantiasa menggelitik untuk selalu dinanti dan dirindukan kehadiranya.

Berangkat dari sini, salah satu konsep mendasar yang menjadi akar bagi seluruh amalan kita pada bulan ini adalah dengan hablumminallah atau takarrub Ilallah, selalu mendekatkan diri kepada Allah swt. melalu bermacam rutinitas, contoh kongkrit dengan qiyamullail,’itikaf, memperbanyak berdo’a dan bermunajat kepada Allah swt., mengulurkan tangan dengan bersadaqoh, menghimpun untaian zikir, muhasabatunnafsi, berdiam dimasjid dan melantunkan ayat suci al-Qur’an yang agung. Adapun dalam kehidupan kita tidak terlepas dari ikatan dengan manusia, bermuamalah dengan baik adalah kata yang indah untuk didengar namun masih teramat jarang kita temukan realitanya didalam pelaksanaan. Hablumminannas bisa diaplikasikan dengan bermacam cara, mencurahkan kasih sayang terhadap suami, isteri dan anak-anak, senanatiasa bersifat dermawan, mempererat jalinan silaturrahmi, memberi makan bagi yang kelaparan, saling nasihat menasihati, mengabulkan hajat dan menolong sesama.

Sangatlah ironis sekali tatkala kita lalai menciptakan momentum dalam peningkatan ibadah pada bulan barakah ini, tiga puluh hari hanya sekelumit hitungan waktu, ia akan berlalu tanpa makna jika kita tidak pandai menatanya dengan baik. Ia akan pergi bersama bergulirnya waktu yang terbuang percuma dengan menyisakan penyesalan yang sia-sia.

Tanpa terasa perjalanan Ramadan kali ini kian beranjak. Jengkal demi jengkal telah kita lewati bersama. Kini tibalah kita memasuki gerbang ‘asyru awakhir sepuluh hari terakhir, yang mana Sang Kholiq menghadirkan didalamnya satu malam agung penuh dengan hikmah dan barakah, lebih baik dari seribu bulan, ia diberi nama lailatul qadar. Semoga kita mempunyai dimensi tersendiri dalam menginventasikan waktu pada sepuluh malam terakhir ini. Jangan sampai rutinitas kita berlalu tanpa makna, mengalir tanpa pahala. Allahumma balighnaa lailatal qadar.

Bukanlah slogan semu, tulisan ini merupakan wujud refleksi pribadi, mengajak saya dan kita semua berkontemplasi sejenak untuk selalu menjadikan Ramadan kali ini sebagai ladang tadribat dan orientasi diri. Sebagai pencetak bias-bias takwa dan memperkokoh sendi-sendi keimanan kita. Semoga kita selalu menjadi hamba Allah yang benar-benar suci tanpa polesan noda dan percikan dosa sebagaimana bayi yang baru lahir. Ramadan menebar makna, ia juga bisa diibaratkan seperti kepompong yang akan menelurkan kupu-kupu indah nan cantik. Kita berharap kupu-kupu itu adalah kita semua. Semoga jendela Ramadan yang akan datang senantiasa terbentang luas dan mampu kita ketuk dan kita cicipi bersama. Waallahu’alam

 

Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s